Oleh: Alfred B. Jogo Ena
“Kebahagiaan terindah diperoleh tatkala kita masih bisa bertegur sapa, tanpa harus saling mengenal. Itulah ciri khas manusia. Tetapi, sekarang orang sudah makin susah untuk bertegur sapa” (ABJE).
Betapa bahagianya mempunyai sahabat yang selalu punya waktu untuk kita. Setiap saat (meski tidak harus terus menerus) ia selalu sempatkan diri untuk menghubungi Anda hanya untuk menanyakan kabarmu, mendengarkan suaramu, dan terutama ingin mengetahui keadaanmu.
Seorang sahabat selalu mempunyai jadual yang tetap dalam hidupnya untuk berbagi waktu dengan sahabatnya. Meski hanya sejenak (2-3 menit) tapi sudah lebih dari cukup. Sebab kehadiran kita yang 2-3 menit itu sangat berarti baginya. Demikian juga kita akan merasakan sebaliknya. Betapa…. sapaan-sapaan yang sederhana tapi sering dan rutin, menjadi sebuah pelipur kala rindu. Betapa berartinya sapaanmu bagi sahabat yang sangat mengharapkan kehadiranmu. Bila engkau alpa untuk menyapanya sejenak saja, dia akan segera mencarimu dan mencari tahu apa yang sedang terjadi denganmu. Upaya pencarian yang dia lakukan semata-mata terdorong oleh cinta untuk selalu menempatkan seorang sahabat sebagai prioritas di atas segala sesuatu yang lain.
Memang setia dalam waktu yang lama, setia secara teratur dari hari ke hari membutuhkan perjuangan yang konsisten. Kesetiaan perlu proses sebab ia tidak langsung jadi. Orang tidak langsung bisa setia, tetapi perlu latihan terus menerus, konsisten dan konsekuen serta tanggung jawab. Ketika berada di pedalaman Madagascar, Afrika, seorang sahabat saya dari Chile selalu mengirimkan saya surat sekali seminggu (karena tidak ada sarana komunikasi lain, internet apalagi handphone supaya bisa sms-an). Kadang tidak banyak hal yang diperbincangkan dalam surat itu. Tetapi bagi saya kehadiran surat itu sudah lebih dari cukup. Itulah bentuk perhatiannya. Itulah bentuk dukungan yang paling konkret. Ya…meski hanya surat tapi sudah sangat menghibur seolah-olah dirinya sendiri. Sayapun berbuat yang sama padanya…tetapi sayang setelah kami kembali ke negara masing-masing, kami kehilangan kontak, apalagi setelah saya berhenti menjadi calon pastor. Tetapi saya yakin kami tetap saling mendoakan dan mendukung perjalanan hidup masing-masing.
Saudara, kehendak dan kerinduan kita untuk selalu hadir di hadapan sahabat meski sekadar untuk mengatakan “salam” bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Kerinduan itu terdorong oleh hasrat kita untuk selalu menempatkan sahabat kita sebagai orang yang layak untuk mendapatkan perhatian dan cinta kita.
Bukankah perhatian dan kehadiran kita dapat menghapus air mata duka yang sedang ditanggungnya? Bukankah kehadiran kita membukakan pintu hati sahabat kita untuk berbagi beban hati yang tertekan selama ini? Jadi, jangan pernah sepelekan arti salammu pada sahabatmu. Sebab salammu bisa menjadi pencair semangat hidupnya, terlebih di masa pandemi ini ketika kita tak bisa saling sua secara fisik, ketika kita tersekat oleh slogan 3M. Salam kita bisa jadi salam yang pertama sekaligus terakhir sebelum kita dipisahkan secara tiba-tiba oleh covid-19. (abje)
