Oleh: Alfred B. Jogo Ena

Tanah masih basah. Bunga-bunga di atasnya belum kering. Duka di dada masih menekan. Mata masih sembab selepas kepergiannya untuk selamanya. Ketika kakaknya yang juga seorang agen asuransi datang membawa kabar baik untuk memproses klaim santunan duka atas meninggalnya sang adik ipar.

“De, tolong segera urus surat kematian suamimu dan lengkapi data-data berikut,” kata sang agen kepada adiknya.

“Loh ini apa Mbak?” Tanya sang adik.

“Ini berkas-berkas untuk mengurus klaim asuransi suami. Kan dia kemarin menabung 2 polis untukmu dan anak-anak. Meski baru jalan tiga bulan, perusahaan akan memenuhi semua janjinya kepada nasabah melalui ahli warisnya,” jelas sang kakak dengan sabar sembari memperlihatkan dua polis proteksi yang diikuti suami adiknya.

“Jadi…jadi…nanti kami akan dapatkan sebesar ini? Ya Allah, Mas Aris kamu diam-diam sudah menyiapkan semua ini bagiku dan anak-anak?” tanya sang adik kepada sang sembari sesunggukan menahan tangis.

(Contoh klaim salah satu nasabah Zurich yang menabung proteksi 8 di ZTL)

Ya tangis bahagia mendapatkan kejutan tak terduga atas besarnya cinta yang ditinggalkan oleh sang suami yang diam-diam menabung proteksi 8 di Zurich Topas Life meski baru berjalan tahun pertama bahkan polis keduanya belum satu tahun.

Kematian itu memang misteri ilahi. Tak ada yang bisa menduga kapan persisnya ia datang menjemput kita. Kita hanya memegang nomor antrean yang kita tidak tahu angkanya. Yang kita bisa antisipasi – menggunakan kehendak dan akal budi kita – dengan menyiapkan hal-hal yang tak terduga seperti “proteksi jiwa” kepada ahli waris yang akan kita tinggalkan.

Almarhum adik ipar dari Mbak Aru yang juga agen Zurich di Setva Esther Yogyakarta menabung dua polis dengan Proteksi sebesar 250juta dan 300-anjuta. Dengan total premi yang dibayarkan belum genap 12 juta, manfaat yang diwariskan untuk istri dan anak-anaknya hampir 48 kali lipat. Tentu dia menabung bukan untuk mendapatkan santunan. Dia menabung agar setelah 8 tahun dia bisa mendapatkan kembali uangnya sebesar 108%. Tetapi apa mau dikata, manusia hanya bisa hidup menurut kehendak Ilahi. Apa yang dipersiapkan secara manusiawi seringkali bertolak belakang dengan kenyataan Ilahi. Siapa sangka proteksi jiwa yang dia siapkan bermanfaat bagi orang-orang tercinta yang ditinggalkannya.

Kini, mengikuti contoh yang ditinggalkan suami almarhum, sang istri menyimpan lagi uang klaim sejumlah itu di Zurich pada produk Profit 3 dengan menabung selama tiga tahun minimal 100 juta dengan masa kontrak 20 tahun. Ya, anggap saja dia membiarkan uangnya “beranak” bersama Zurich.

Sejauh ini Zurich Topas Life selalu membuktikan janji-janjinya kepada para nasabah. Klaim-klaim meninggal dunia dan rumah sakit selalu terbayarkan sesuai dengan perjanjian. Zurich selalu berusaha membuat nasabah merasa nyaman dan percaya dengan memberikan bukti nyata. Nasabah puasa, agen menuaikan tugas edukatifnya dengan baik dan perusahaan hadir nyata. Jadi pertanyaan Emang Sudah Ada Bukti menjadi tidak relevan bagi nasabah yang sudah gabung. Bukti ini juga menjadi “pintu masuk” bagi yang masih ragu-ragu memproteksikan dirinya demi orang-orang yang dicintai. (bersambung tentang produk profi 3)

Spread the love