Rabu malam perlahan larut, merajut detik-detik hening menuju Kamis Putih. Di tengah peradaban modern yang bising dan gemar menawarkan pelarian instan dari setiap penderitaan, kita justru diundang untuk melangkah dalam sunyi, memasuki pekatnya bayang-bayang pepohonan zaitun di Taman Getsemani. Inilah momen di mana cinta diuji dalam ketakutan yang paling purba, sebuah rintihan yang bergema lintas abad hingga ke sebuah sel penjara yang pengap di Toledo, tempat Santo Yohanes dari Salib membuktikan bahwa di dalam kegelapan yang paling mutlak sekalipun, fajar kebangkitan diam-diam sedang dirajut.

Di Taman Getsemani, tatkala malam semakin pekat menjelang penangkapan-Nya, Yesus Kristus berhadapan dengan agonia atau pergumulan batin yang begitu hebat hingga peluh-Nya menetes seperti titik-titik darah ke tanah. Ketakutan dan kegentaran yang mencekam jiwa-Nya bukanlah ketakutan artifisial akan siksaan cambuk atau paku di kayu salib, melainkan kengerian eksistensial menghadapi “cawan” murka Allah.

Meminum cawan itu berarti jiwa-Nya yang Maha Suci harus bersentuhan dengan kenajisan dosa seluruh umat manusia, yang secara teologis melahirkan konsekuensi paling mengerikan: keterpisahan ontologis dari Allah Bapa dan ditinggalkan dalam kegelapan mutlak.

Namun, di titik nadir kesendirian di mana para murid-Nya terlelap karena dukacita, Yesus menaklukkan kehendak manusiawi-Nya dengan penyerahan total, berkata, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Lima belas abad setelah malam kelam di Getsemani tersebut, seorang biarawan bersahaja dari Spanyol mengalami “Getsemani”-nya sendiri. Pada bulan Desember 1577, Santo Yohanes dari Salib diculik oleh saudara-saudara se-ordonya yang menentang upaya reformasi spiritual yang ia bangun bersama Santa Teresa Avila.

Ia dikurung selama sembilan bulan di sebuah sel penjara biara di Toledo yang sangat sempit, berukuran hanya sekitar sepuluh kali enam kaki, tanpa cahaya, kelaparan, dan menjadi subjek dari siksaan serta cambukan yang brutal secara berkala.

Di dalam ruang isolasi yang mencekik itu, ia tidak hanya disiksa secara fisik, tetapi juga mengalami penderitaan batin yang hebat, merasa bahwa Tuhan seolah-olah telah meninggalkannya. Ia berada dalam fase yang kelak ia sebut sebagai “Malam Gelap Jiwa” (Dark Night of the Soul).

Sungguh sebuah paradoks ilahi, di tengah ketiadaan cahaya fisik dan kekosongan rohani di Toledo itulah, lahir karya-karya puisi mistiknya yang paling abadi, seperti Kidung Rohani dan bait-bait Malam Gelap.

Malam Gelap, sebagaimana digemakan di Getsemani dan dikidungkan oleh Yohanes dari Salib, bukanlah sekadar depresi psikologis atau keputusasaan tanpa arah. Ia adalah sebuah proses pemurnian pasif dari Allah yang secara radikal melucuti jiwa dari segala kelekatan pada ciptaan, kesenangan sensorik, hingga hiburan-hiburan rohani.

Dalam kekosongan ini, jiwa dilanda dolencia de amor (penyakit cinta), sebuah rasa sakit yang muncul dari kerinduan mendalam akibat ketidakhadiran Sang Kekasih, yang tidak bisa diobati oleh apa pun selain wujud nyata Allah sendiri.

Penderitaan ini bertindak sebagai “pedagogi Ilahi”, bagaikan nyala api yang membakar sebatang kayu, awalnya api itu menghitamkan dan mengeluarkan segala kelembapan dari dalam kayu tersebut melalui penderitaan, sebelum akhirnya mengubah kayu itu sepenuhnya menjadi nyala api yang menerangi dan menghangatkan.

Menjelang Kamis Putih, ketika lonceng gereja akan segera digantikan oleh bunyi kepak kayu, kita diajak untuk ikut berjaga-jaga. Terkadang, demi memampukan kita mencintai dengan lebih murni, Tuhan akan membawa kita berjalan memasuki Taman Getsemani kita masing-masing, atau mengurung kita sejenak dalam “penjara Toledo” di mana tak ada cahaya yang tampak.

Janganlah lari dari malam yang kelam itu. Seperti Yesus yang rela merangkul cawan penderitaan-Nya, dan seperti Yohanes dari Salib yang menemukan “musik yang hening” di balik jeruji, kita diyakinkan bahwa penderitaan dan kegelapan jiwa bukanlah akhir dari segalanya.

Ia adalah jalan pemurnian mutlak yang harus direngkuh, yang memandu kita menyongsong fajar kebangkitan Paskah yang tak kunjung padam.

Spread the love