Sadarkah kita bahwa betapa seringnya kita berdoa meminta jalan keluar, namun diam-diam kita sendirilah yang menggembok pintunya dari dalam? Kita menjerit memohon pemulihan atas pernikahan yang membeku, karier yang jalan di tempat, atau kehidupan rohani yang terasa hampa. Namun, ketika Tuhan datang dan memerintahkan, “Gulingkan batu itu!”, kita justru berdalih seperti Marta: “Tuhan, baunya sudah busuk.”
Kita terlalu pengecut untuk menghadapi realitas. Kita lebih suka merawat gengsi, memelihara kepahitan, dan memeluk trauma kita erat-erat, hingga kita lupa bahwa zona nyaman yang selama ini kita pertahankan sebenarnya adalah sebuah makam yang mematikan.
Kisah kebangkitan Lazarus bukan sekadar demonstrasi kuasa ilahi di masa lalu, melainkan cermin psiko-spiritual yang sangat aktual menampar realitas hidup kita hari ini. Ada dua perintah Yesus yang menuntut tindakan manusiawi sebelum dan sesudah mukjizat terjadi: “Gulingkan batu itu!” dan “Lepaskan ikatannya dan biarkan ia pergi.”
Batu Berat di Balik Kehidupan, Keluarga, dan Pekerjaan Kita
Secara psikologis dan spiritual, “batu” penutup makam itu adalah wujud dari sikap apatis, keangkuhan, ketakutan, dan egoisme kita. Masyarakat modern saat ini didominasi oleh ketergesaan, gempuran teknologi informasi, dan konsumerisme yang pada akhirnya membuat kita kehilangan jati diri dan empati.
Dalam kehidupan sehari-hari, batu itu bermanifestasi menjadi dosa ketidakpedulian. Di tempat kerja, batu itu adalah ego sektoral, penolakan untuk berkolaborasi, atau keengganan berinovasi karena takut gagal.
Di tengah keluarga, batu itu sangat nyata berupa silent treatment (saling diam), gengsi untuk meminta maaf lebih dulu, atau rutinitas yang mengikis kehangatan relasi suami-istri dan anak. Kita hidup, namun sebenarnya kita terkurung di dalam kegelapan makam buatan kita sendiri.
“Gulingkan Batu Itu”: Keberanian Mengambil Langkah Pertama
Yesus adalah Tuhan; Ia bisa saja melenyapkan batu makam Lazarus hanya dengan satu jentikan jari. Namun, mengapa Ia menyuruh orang-orang di sana yang melakukannya? Karena Tuhan menuntut partisipasi aktif dan pertobatan hati kita. Mukjizat tidak akan bekerja pada hati yang menolak untuk dibongkar.

Menggulingkan batu berarti kita harus berani mengambil langkah pertama. Dalam Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (ARDAS KAS) IX 2026-2030, ditegaskan bahwa Gereja baru bisa disebut “Menginspirasi” jika ia berani mengambil langkah pertama untuk mendorong orang lain berpikir, bersikap, dan berbuat positif.
Mari kita terapkan ini secara aktual. Dalam Keluarga. Gulingkan batu keangkuhan Anda. Mengambil langkah pertama berarti menelan ego untuk menyapa pasangan Anda lebih dulu setelah pertengkaran hebat, atau meluangkan waktu mendengarkan anak-anak Anda tanpa gangguan gawai.
Dalam Pekerjaan. Gulingkan batu kemalasan dan ketakutan. Ambil inisiatif untuk memecahkan kebuntuan, tawarkan solusi meskipun Anda bukan atasan, dan mulailah membangun jejaring kolaborasi yang sehat.
“Lepaskan Ikatannya”: Komunitas yang Memulihkan
Setelah batu digulingkan dan Lazarus dipanggil keluar, apakah ia langsung bisa berlari? Tidak. Ia keluar masih dengan kaki dan tangan terikat kain kafan, serta wajah tertutup kain peluh. Pada titik inilah Yesus kembali meminta campur tangan manusia: “Lepaskan ikatannya dan biarkan ia pergi!”
Secara psiko-spiritual, ini melambangkan bahwa bahkan setelah kita bertobat atau keluar dari keterpurukan, kita sering kali masih membawa “kain kafan” dari luka masa lalu kita. Kita masih terikat oleh kebiasaan buruk, trauma, rasa tidak berharga, atau kata-kata negatif.
Di sinilah letak pentingnya peran sesama (komunitas, keluarga, dan rekan kerja) untuk saling melepaskan ikatan. Seperti yang ditekankan oleh Paus Leo XIV, kita harus melucuti bahasa kita dan mulai berpuasa dari kata-kata yang melukai, menjauhi fitnah, serta menggantinya dengan bahasa yang membawa harapan.
Di tempat kerja, lepaskan ikatan rekan Anda dengan berhenti menjatuhkan dari belakang, berhentilah bergosip, dan mulailah saling mendukung.
Di keluarga dan Gereja, lepaskan ikatan trauma orang-orang di sekitar kita (terutama kaum Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel) melalui belarasa dan solidaritas. Komunitas yang mau saling melepaskan ikatan inilah yang pada akhirnya menjadi Gereja yang sungguh “Bahagia dan Menyejahterakan”, di mana setiap anggotanya dapat memenuhi kebutuhan material, emosional, sosial, dan spiritual secara bersama-sama.
Kesimpulan
Hari ini, suara yang sama sedang berseru di depan pintu makam kehidupan Anda. Mukjizat pemulihan keluarga, terobosan dalam pekerjaan, dan kedamaian batin sudah disiapkan oleh-Nya. Namun, pilihan ada di tangan Anda. Maukah Anda berhenti meratapi nasib, bangkit berdiri, dan menggulingkan batu itu?
Ambillah langkah pertama. Gulingkan batu ego Anda hari ini, dan jadilah tangan Tuhan yang melepaskan ikatan sesama Anda!
