Menjadi seorang pemimpin di tengah situasi yang genting bukanlah tugas bagi mereka yang bernyali kecil atau mudah peragu. Tepat di ambang Pekan Suci, sehari menjelang Minggu Palma, kalender liturgi menghadapkan kita pada sebuah drama krisis nasional yang menuntut pengambilan keputusan yang cepat dan radikal.

Melalui bacaan hari ini, kita diajak untuk merefleksikan makna kepemimpinan, persatuan bangsa, dan ketegasan bertindak, melalui cermin seorang tokoh kontroversial: Imam Besar Kayafas.

Dalam bacaan pertama, Nabi Yehezkiel menubuatkan sebuah visi ideal dari Allah untuk menyatukan kembali bangsa Israel dan Yehuda yang terpecah belah menjadi satu bangsa di bawah satu raja dan satu gembala. Namun, visi persatuan ini sangat kontras dengan realitas krisis yang terjadi dalam Injil Yohanes.

Setelah Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian, popularitas-Nya melonjak tajam sehingga memicu kepanikan luar biasa di kalangan Mahkamah Agama (Sanhedrin). Para pemimpin agama ketakutan bahwa gerakan massa ini akan memancing amarah pemerintah kolonial Romawi, yang pada akhirnya akan menghancurkan tempat suci dan keberlangsungan bangsa mereka.

Di tengah kepanikan dan kebingungan para pemimpin yang hampir lumpuh oleh ketakutan tersebut, tampillah Yusuf Kayafas. Sebagai seorang politisi ulung yang berhasil mempertahankan jabatan Imam Besar selama 18 tahun di bawah bayang-bayang penjajahan Romawi, Kayafas adalah sosok yang tangguh.

Ia memecah kebuntuan dewan dengan sebuah ketegasan yang mematikan: “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa”.

Bagi Kayafas, memotong “kepala” dari gerakan ini melalui sebuah tindakan pencegahan yang cepat (preemptive blow) adalah solusi paling logis dan mendesak saat itu.

Relevansi bagi Kepemimpinan di Indonesia

Bagi kita di Indonesia, sebuah negara besar yang majemuk dan kerap dihadapkan pada krisis multi-dimensi, baik itu gesekan sosial, tantangan ekonomi, maupun ancaman polarisasi politik, ada sebuah pelajaran penting yang bisa diambil dari sisi terang ketegasan Kayafas.

Dalam mengelola negara sebesar Indonesia, seorang pemimpin dituntut untuk berani mengambil tindakan tegas, memecahkan kebuntuan, dan bertindak tepat waktu saat krisis melanda.

Pemimpin tidak boleh terjebak dalam keragu-raguan atau sekadar berwacana ketika stabilitas dan keselamatan “bangsa” sedang terancam. Keputusan yang cepat, efisien, dan berani mengambil risiko sangat dibutuhkan demi merawat keutuhan dan keberlangsungan hidup masyarakat luas.

Akan tetapi, kepemimpinan Kayafas sekaligus memberikan peringatan dan kritik moral yang sangat keras. Ketegasan Kayafas menjadi cacat secara fatal karena motivasi yang mendasarinya.

1. Jangan Mengorbankan Keadilan demi Pragmatisme Mencari Aman

Kayafas mengambil keputusan yang tegas, namun keputusannya didorong oleh pragmatisme politik murni dan keinginan untuk mempertahankan status quo kekuasaan kelompoknya. Ia memilih jalan mencari aman (playing it safe) dengan mengorbankan nyawa orang yang tidak bersalah.

Bagi para pemimpin di Indonesia, ketegasan tidak boleh membenarkan penyalahgunaan hukum atau pengorbanan rakyat kecil demi menyelamatkan posisi dan kepentingan segelintir elite penguasa.

2. Ketegasan Harus Dilandasi Visi Ilahi, Bukan Ketakutan

Kayafas dibutakan oleh ambisi duniawi dan ketakutannya terhadap penguasa asing (Romawi) sehingga ia gagal melihat kebenaran sejati yang berdiri tepat di depannya. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tegas karena ia berpegang pada prinsip kebenaran dan keadilan, bukan pemimpin yang tegas karena panik dan ingin melindungi aset serta kedudukannya sendiri.

Pemimpin sejati mengutamakan tujuan pelayanan (purpose), bukan sekadar mempertahankan jabatan (position).

***

Ironi terbesar dari sejarah ini adalah bagaimana Allah memakai kelicikan politik Kayafas menjadi sebuah nubuat yang suci. Tanpa ia sadari, Kayafas telah menubuatkan bahwa kematian Yesus justru akan menjadi kurban penebusan yang sesungguhnya, bukan sekadar tumbal politik, melainkan untuk mengumpulkan dan mempersatukan seluruh anak-anak Allah yang tercerai-berai di seluruh dunia.

Memasuki Pekan Suci esok hari, kita akan melihat kontras yang paling nyata. Yesus Kristus menunjukkan kepada kita wujud kepemimpinan yang paling agung.

Tidak seperti Kayafas yang mengorbankan orang lain demi menyelamatkan dirinya dan jabatannya, Yesus justru mengorbankan Diri-Nya sendiri demi keselamatan seluruh bangsa dan umat manusia.

Semoga bangsa kita senantiasa dikaruniai pemimpin-pemimpin yang memiliki ketegasan dan keberanian dalam bertindak, namun dengan hati yang dijiwai oleh roh pelayanan dan kebenaran ala Kristus, bukan pragmatisme kelam ala Kayafas.

Spread the love