“Buku adalah pelukan yang tak bersuara; ia menghangatkan jiwa yang kedinginan tanpa harus menyentuhnya.”

Tak ada yang lebih menghangatkan di dataran tinggi Bajawa selain secangkir kopi di malam yang dingin. Orang-orang berkumpul di sekitar tungku, bercerita, tertawa, dan berbagi sunyi. Kehangatan itu lahir bukan dari cangkirnya, melainkan dari kebersamaan yang menyertainya. Di sanalah kita belajar bahwa kehangatan sejati selalu lahir dari sesuatu yang dibagikan, bukan yang disimpan sendiri.

Buku pun bisa menjadi tungku bagi jiwa yang kedinginan. Ada orang yang sedang kehilangan, kelelahan, atau merasa sendirian, lalu sebuah kalimat dalam buku tiba-tiba terasa seperti tangan yang menepuk bahu. Pembaca merasa dimengerti oleh penulis yang tak pernah ia temui. Itulah keajaiban kata: ia menghangatkan dari jauh, melintasi jarak, waktu, bahkan generasi.

Namun di balik setiap buku yang mampu menghangatkan, selalu ada seorang penulis yang pernah berani membuka dirinya. Ia tidak menulis karena merasa paling tahu, melainkan karena ia pernah merasakan dingin yang sama, dan ingin meninggalkan api kecil bagi siapa pun yang akan lewat setelahnya. Setiap halaman yang jujur adalah bara yang tak akan pernah padam, bahkan ketika penulisnya telah lama pergi.

Maka hari ini, jangan hanya memberi buku, menulislah. Tuliskan pengalamanmu yang paling jujur, pelajaran hidup yang paling dalam, atau kisah sederhana yang pernah mengubahmu. Jangan menunggu merasa cukup hebat. Mulailah dari satu halaman, satu kenangan, satu doa yang pernah kau ucapkan dalam sunyi. Karena di luar sana, ada seseorang yang sedang kedinginan, menantikan api dari kata-katamu.

Bajawa Press hadir untuk mengumpulkan bara-bara kecil itu, menjadikannya buku yang sampai ke tangan yang tepat. Menulislah, agar kehangatanmu tak pernah benar-benar pergi. Menjangkau sesama dengan buku, karena kata yang ditulis dengan tulus, akan selalu menemukan hati yang membutuhkannya.

Spread the love