Bajawa Press · Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026

Di suatu dapur kampung, seorang nenek menuturkan nama-nama leluhur sambil menumbuk bumbu. Di beranda rumah adat, seorang tetua melantunkan syair yang hanya ia dan beberapa orang seumurnya masih hafal. Di balik motif sehelai tenun ada kisah tentang gunung, sungai, dan janji antargenerasi. Semua itu hidup dalam suara dan ingatan, dan suara serta ingatan akan padam bersama tubuh yang menyimpannya. Orang muda hari ini berdiri tepat di antara yang sedang padam dan yang bisa diselamatkan. Alat penyelamatnya sederhana: pena, papan ketik bernama laptop atau Android, dan keberanian untuk menuliskan apa yang kita warisi sebelum semuanya menjadi sunyi.

Lebih dari Upacara

Setiap 28 Oktober, kita mengenang tahun 1928, ketika para pemuda dari berbagai daerah berikrar bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan. Kita menyanyikan lagu, mengibarkan bendera, membacakan teks ikrar. Semua itu baik. Tetapi ikrar yang hanya diulang setahun sekali bisa menjadi kebiasaan yang kosong.

Perhatikan satu hal: salah satu butir ikrar itu menyangkut bahasa. Para pemuda 1928 memahami bahwa bangsa dibangun dari kata-kata, dari bahasa yang dipakai bersama, dari tulisan yang saling dibaca. Maka cara paling jujur menghidupi Sumpah Pemuda bukan hanya berdiri tegak di lapangan, melainkan duduk tenang di depan halaman kosong dan mengisinya dengan sesuatu yang bernilai.

Yang Tidak Ditulis Akan Hilang

Sejarah punya hukum yang kejam: yang tidak tercatat mudah terlupakan. Pramoedya Ananta Toer pernah mengingatkan bahwa sepandai apa pun seseorang, jika ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah. Peringatan itu berlaku bagi pribadi, dan lebih berlaku lagi bagi sebuah kebudayaan.

Betapa banyak kekayaan kita yang bergantung pada satu-dua penutur terakhir: tata cara adat, resep obat tradisional, cerita asal-usul kampung, kosakata bahasa daerah, nyanyian kerja, teknik menenun dan membangun rumah. Orang tua kita menyimpannya bukan karena pelit, melainkan karena tidak pernah ada yang meminta mereka menuliskannya, dan tidak ada yang cukup sabar untuk mencatatnya. [Sebuah intermezzo paling epik: di mana pengetahuan paling banyak disembunyikan? Ya di kuburan bersama para profesor yang tidak pernah menulis dan mewariskan ilmu pengetahuannya kepada generasi berikutnya]

Di sinilah orang muda berperan. Kalian punya yang tidak dimiliki generasi sebelumnya: kecakapan digital, jaringan luas, dan telinga yang masih segar. Kalian juga punya yang tidak akan dimiliki generasi sesudahnya: kesempatan duduk langsung bersama para penutur terakhir itu.

Menulis Bukan untuk Diri Sendiri

Ada godaan besar untuk menganggap menulis sebagai panggung pribadi, sebagai cara tampil, mengumpulkan pengikut, atau sekadar menghias kurikulum. Tidak salah bila tulisan membawa nama baik bagi penulisnya. Namun tujuan terdalamnya lebih luas. Kita menulis supaya anak-cucu yang belum lahir bisa bertanya, “Dari mana kami berasal?”, dan menemukan jawabannya di rak perpustakaan, bukan hanya pada kenangan yang sudah terkubur.

Penulis muda yang baik adalah penjaga, bukan pemilik. Ia meminjam kisah dari para leluhur untuk dititipkan kepada generasi berikutnya, utuh dan terawat.

Dari Mana Mulai

Tidak perlu menunggu menjadi sastrawan. Mulailah dari yang dekat.

Catat percakapan. Wawancarai kakek, nenek, tetua kampung, pemuka adat, pengrajin. Rekam dengan izin mereka, lalu tuliskan kembali dengan setia. Satu jam bercakap bisa menjadi satu artikel yang dibaca bertahun-tahun.

Tulis yang kamu alami. Pengalaman belajar, merantau, berladang, melayani, bekerja, jatuh dan bangun adalah pengetahuan. Pengalamanmu mungkin tampak biasa bagimu, tetapi menjadi petunjuk berharga bagi orang yang akan menempuh jalan yang sama.

Mulai dari artikel, bergerak ke buku. Artikel melatih kejernihan: satu gagasan, satu alur, satu kesimpulan. Dari tumpukan artikel yang terkumpul, buku akan tumbuh dengan sendirinya. Banyak buku yang baik lahir dari tulisan-tulisan kecil yang ditekuni dengan tekun.

Tulis dengan jujur dan teliti. Cek nama, tahun, dan tempat. Hormati narasumber. Pisahkan fakta dari tafsir. Warisan budaya layak ditulis dengan tangan yang bersih.

Terbitkan. Tulisan yang tersimpan di laci hanya menolong penulisnya. Kirim ke media, ikut antologi, bukukan. Penerbit yang berpihak pada penulis daerah, seperti kami, ada justru untuk membuka pintu itu.

Rasa Takut yang Perlu Dilampaui

Banyak orang muda berhenti sebelum mulai karena merasa tulisannya belum cukup bagus, belum cukup ilmiah, belum cukup “layak”. Padahal tulisan pertama memang jarang bagus, dan itu wajar. Tulisan membaik karena ditulis, direvisi, dikritik, lalu ditulis lagi. Tidak ada jalan pintas. Yang ada hanyalah kebiasaan menulis sedikit setiap hari, bahkan sepuluh menit sehari, sampai kebiasaan itu menjadi kekuatan.

Dan jangan takut menulis dengan bahasa sendiri. Bahasa Indonesia yang kita junjung sejak 1928 tumbuh subur karena dialiri kosakata, ungkapan, dan cita rasa dari berbagai daerah. Menulis tentang kampungmu dengan lidah kampungmu justru memperkaya bahasa persatuan itu.

Tantangan Hari Ini

Hari ini, setelah upacara selesai dan lagu kebangsaan reda, ambillah satu langkah kecil. Tentukan satu orang yang paling kamu hormati dan menyimpan banyak cerita, lalu telepon atau temui dia pekan ini. Mintalah ia bercerita. Tulis malam harinya.

Begitulah sumpah diperbarui, bukan dengan seruan yang menggema sesaat, melainkan dengan kata-kata yang bertahan seratus tahun. Orang muda yang menulis hari ini sedang membangun perpustakaan bagi bangsa yang belum lahir.

Pena ada di tanganmu. Sejarah sedang menunggu.

Bajawa Press mengundang orang muda dari seluruh penjuru untuk menulis dan menerbitkan karya: artikel, esai, kisah, hingga buku. Karena kekayaan budaya kita layak dilestarikan, dan engkaulah penjaganya.

Spread the love