Catatan Hangat dari Sudut KHAS Tugu

Senin sore itu, 30 Maret 2026, suasana di KHAS Tugu Hotel tidak seperti biasanya. Riuh rendah tawa dan sapaan akrab memenuhi ruangan saat keluarga besar SMK Kesehatan Binatama berkumpul. Bukan untuk urusan medis atau kurikulum yang kaku, melainkan untuk sebuah tradisi yang membasuh jiwa: Syawalan dan Halal Bihalal.

Sejak pukul 14.00 WIB, semangat “disiplin tenaga kesehatan” sudah terlihat. Menariknya, panitia sudah menyiapkan kejutan sejak langkah pertama. Bagi mereka yang datang paling awal, sebuah apresiasi manis sudah menanti. Tak hanya itu, deretan doorprize yang dipajang di meja registrasi menjadi magnet tersendiri, membuat momen paraf kehadiran terasa seperti sedang mengundi keberuntungan.

Satu Frekuensi: Pesan Kemenangan

Acara dibuka dengan rangkaian sambutan yang terasa seperti sebuah harmoni. Ibu Nuri Hastuti, selaku Kepala Sekolah, membuka dengan pesan tentang pentingnya menjaga ritme kebersamaan. Pesan senada diperkuat oleh Bapak Sugeng (Wakil Yayasan) dan wakil Komite Sekolah.

Hadir pula Ibu Estika, Pengawas SMK dari Balai Dikmen, yang memberikan pandangan bahwa Idul Fitri adalah momentum bagi guru dan tenaga kependidikan (tendik) untuk me-recharge energi spiritual agar pengabdian di sekolah tetap tulus. Meski dari sudut pandang berbeda, semua sepakat: Idul Fitri adalah tentang kembali ke titik nol yang suci.

“Bumbu Hati” ala Ustad Iwan Santosa

Suasana yang semula formal mendadak berubah cair saat Ustad Iwan Santosa naik ke mimbar. Dengan gaya yang santai, sesekali melempar banyolan segar yang memicu tawa renyah, beliau berhasil membedah filosofi mendalam dari secarik catatan tentang “Kupat”.

“Kunci kebaikan itu dibumbui oleh hati,” selorohnya mengawali tausiah sembari memuji dua MC yang piawai memilih diksi dan merangkai kata.

Beliau membedah bahwa Kupat bukan sekadar makanan bersantan, melainkan simbol “Ngaku Lepat” (mengaku salah). Di dunia pendidikan, di mana guru sering dianggap “paling tahu”, keberanian untuk mengakui kesalahan adalah puncak dari kemuliaan.

Ustad Iwan kemudian mengajak peserta menyelami “Laku Papat”: Lebaran: Usainya ujian. Luberan: Melimpahnya maaf dan sedekah. Leburan: Meleburnya dosa antar sesama. Laburan: Kembali putihnya hati menuju Sejatining Nur (Cahaya Sejati).

Menuju Delapan Pintu Surga

Tak hanya soal hubungan dengan Tuhan, Ustad Iwan menekankan pentingnya Ukhuwah di lingkungan SMK Kesehatan Binatama. Beliau membagikan resep “Tasawuf Kerja” melalui tiga pilar: Tafahum (saling paham), Ta’awun (saling bantu), dan Takaful (saling menjamin).

Puncaknya, beliau mengingatkan bahwa semua lelah guru dan tendik dalam mendidik siswa adalah “tiket” menuju 8 Pintu Surga. Bagi yang menjaga disiplin spiritual, ada pintu As-Sholat. Bagi yang sabar menghadapi siswa dan rekan kerja, pintu Al-Kazimin (pemaaf) menanti. Bagi yang tak henti berbagi ilmu, pintu Adz-Dzikir terbuka lebar.

“Kita bekerja di SMK Kesehatan, tapi jangan lupa menjaga kesehatan hati agar bisa memilih masuk lewat pintu surga yang mana saja,” pungkasnya yang diamini secara khidmat oleh seluruh hadirin.

Penutup yang Manis

Acara yang berlangsung hingga pukul 19.00 WIB ini diakhiri dengan mushafahah (bersalam-salaman) dan makan malam bersama. Langit Yogyakarta di luar hotel mungkin mulai gelap, namun di dalam ruangan, hati para guru dan tendik SMK Kesehatan Binatama terasa lebih terang, terlabur putih, siap kembali mengabdi dengan semangat baru.

Karena pada akhirnya, seperti pesan dalam tausiah tadi: Kesehatan fisik itu penting, namun kesehatan hati adalah kunci abadi.

Spread the love