Selasa Pekan Suci ini, dentang jam menuju penderitaan Kristus semakin keras. Namun, ironisnya, banyak dari kita justru lebih sibuk mengurusi promo baju baru atau tegang memikirkan seragam paduan suara. Di era flexing ini, Trihari Suci sering kali dibajak menjadi ajang peragaan busana rohani.

Ilusi Kesalehan Lahiriah

Tentu, Gereja meminta kita berpenampilan pantas sebagai bentuk penghormatan. Namun, ada garis tipis antara kepantasan dan pemberhalaan penampilan. Masalah muncul ketika persiapan kita berhenti pada aspek eksternal. Kita menjadi manusia yang tahu aturan agama di luar, namun hampa di dalam. Tuhan menginginkan internal grace (kasih karunia yang mengubah kedalaman hati), bukan sekadar etalase yang cantik.

Kontras yang Menampar: Kenosis vs Ego

Bacaan suci mengajarkan kita tentang kenosis, yakni pengosongan diri Kristus. Lihatlah kontrasnya: Kamis Putih: Yesus melucuti jubah-Nya untuk membasuh kaki para murid. Jumat Agung: Ia dibiarkan ditelanjangi di atas kayu salib.

Bagaimana mungkin kita merayakan Tuhan yang rela menanggalkan segalanya, sementara kita justru sibuk menumpuk aksesori duniawi demi kebanggaan ego? Kristus ditelanjangi agar kita berani “menelanjangi” hati dari segala kepalsuan dan dosa.

Menyiapkan Batin, Bukan Etalase

Agar Paskah tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, singkirkan sejenak kerisauan tentang pakaian apa yang belum disetrika. Persiapan yang sejati itu konkret namun sunyi: membaca sabda, hening dari media sosial, berpuasa, dan mengaku dosa.Paskah tidak menuntut baju yang baru; Paskah menuntut manusia yang baru.

Berhentilah merias bagian luar cawan kehidupanmu. Biarkan Kristus masuk dan menyucikan batinmu. Di hadapan salib nanti, Kristus tidak akan melihat merek pakaian yang kita kenakan, melainkan hati yang hancur karena dosa dan siap dibasuh oleh darah-Nya.

Spread the love