Seabad sudah jejak langkah para Misionaris Keluarga Kudus (MSF) tertoreh di bumi Nusantara, bermula dari kesunyian hulu Sungai Mahakam pada tahun 1926 hingga merengkuh berbagai keuskupan di Indonesia saat ini. Jika Madah-madah awal Kidung Rohani karya Santo Yohanes dari Salib melukiskan jiwa yang keluar dari zona nyamannya untuk mencari jejak Allah di alam ciptaan, Madah 6 dan 7 membawa kita pada titik krisis rindu yang lebih dalam: ciptaan tak lagi cukup untuk memuaskan dahaga batin. Ketika disandingkan dengan visi Vénérable Jean-Baptiste Berthier dan 100 tahun perziarahan MSF di Indonesia, kidung kerinduan mistik ini mengejawantah menjadi panggilan misioner yang radikal: penyerahan diri yang total dan keberanian untuk “berbicara terbata-bata” tentang cinta Allah di tengah-tengah keluarga dan kaum muda.

“Aduhai, siapa yang dapat menyembuhkanku! / Serahkanlah diri-Mu sekarang seutuhnya; / jangan lagi sudi mengirimiku / mulai hari ini utusan-utusan, / karena mereka tak tahu mengatakan padaku apa yang kumau.”

Bait keenam ini menangkap jeritan jiwa yang sedang terluka parah oleh cinta. Setelah melihat jejak keindahan Allah pada alam ciptaan (seperti pada Madah 4 dan 5), jiwa menyadari bahwa ciptaan hanyalah “utusan” atau pembawa pesan.

Menatap keindahan ciptaan justru memperbesar rasa sakit akibat ketidakhadiran Sang Pencipta secara nyata. Jiwa kini tidak lagi puas dengan perantara, tanda, atau pesan-pesan yang tidak langsung; ia menuntut kehadiran Sang Kekasih itu sendiri, menuntut penyerahan diri Allah secara utuh.

1. Sakit karena Cinta yang Tak Terpuaskan oleh “Utusan”

Santo Yohanes dari Salib menjelaskan bahwa jiwa yang sungguh-sungguh mencintai tidak akan pernah puas dengan pengetahuan parsial atau “remah-remah” komunikasi rohani. Segala hiburan duniawi, betapapun sucinya, hanyalah “utusan” yang tidak tahu bagaimana memberikan apa yang sungguh diinginkan jiwa: hakikat Allah sendiri. Sakit karena cinta ini membuktikan bahwa kerinduan jiwa telah melampaui segala sesuatu yang fana.

2. Penyerahan Diri yang Radikal dalam Misi

Dalam terang spiritualitas P. Jean-Baptiste Berthier, kerinduan untuk “menyerahkan diri seutuhnya” ini adalah inti dari panggilan seorang misionaris. Berthier mendirikan MSF pada 1895 berawal dari keprihatinan yang mendalam untuk menyediakan tenaga imam dan misionaris bagi gereja, merangkul mereka yang miskin dan yang panggilannya terlambat. Jiwa misioner sejati menolak untuk hanya mengirimkan “utusan”; mereka memberikan diri mereka seutuhnya.

Semangat inilah yang mendorong tiga pionir MSF (P. Fr. Groot, P. J. Van de Linden, dan Br. Egidius Stoffels) meninggalkan kenyamanan Eropa dan tiba di Laham, Kalimantan Timur, pada 27 Februari 1926. Mereka tidak hanya membawa “pesan” dari jauh, tetapi juga menyembuhkan “luka rindu” umat akan keselamatan dengan memberikan kehadiran mereka yang total di tengah hutan belantara yang belum memiliki listrik maupun infrastruktur. Misionaris MSF menjadi perpanjangan tangan Allah yang hadir langsung tanpa perantara di tengah umat yang paling terabaikan.

Madah 6: Menuntut Kehadiran Sang Cinta Seutuhnya

Madah 7: “Sesuatu yang Tak Kumengerti” yang Diucapkan Terbata-bata

“Dan semua mereka yang mengembara / menceritakan ribuan rahmat-Mu kepadaku, / dan semuanya makin melukaiku, / dan membiarkanku mati / oleh ‘entah apa’ yang mereka ucapkan dengan terbata-bata.”

Menyambung dari penolakan terhadap “utusan-utusan” pada bait sebelumnya, Madah ketujuh ini menggambarkan kondisi jiwa yang mendengarkan kesaksian makhluk-makhluk ciptaan (baik manusia, malaikat, maupun alam) tentang kebesaran Allah.

Alih-alih merasa puas, jiwa justru merasa semakin terluka dan “mati”. Mengapa? Karena ciptaan hanya mampu berbicara dengan “terbata-bata” (balbuciendo) tentang misteri Allah yang tak terkatakan.

1. Teologi yang Terbata-bata di Hadapan Sang Misteri

Santo Yohanes dari Salib menggunakan kata balbucir (terbata-bata/mengoceh seperti bayi) untuk menjelaskan bahwa betapapun indahnya ciptaan atau tingginya akal budi manusia, bahasa manusia akan selalu gagal menjelaskan kebesaran Allah secara utuh.

Ada “sesuatu yang tidak dimengerti” yang melampaui segala pengetahuan. Pengalaman mistik yang sejati tidak bersandar pada kejelasan rasional, melainkan pada ketidakmampuan berkata-kata di hadapan misteri yang terlalu agung.

2. Merengkuh Umat Lewat Bahasa Kasih yang Terbata-bata

Seabad yang lalu, para misionaris MSF yang tiba di Kalimantan sungguh-sungguh mengalami “keterbata-bataan” ini, baik secara harfiah maupun spiritual. Mereka harus belajar meraban (terbata-bata) bahasa dan adat istiadat suku Dayak setempat. Namun, justru melalui kerendahan hati untuk terbata-bata, mereka mengomunikasikan misteri agung dari Keluarga Kudus Nazareth.

Karya mereka bukanlah pewartaan yang mendominasi atau teologi yang arogan, melainkan cinta yang hadir melalui pelayanan poliklinik sederhana, sekolah-sekolah di pedalaman, asrama anak-anak, dan pendampingan keluarga.

Keterbata-bataan ini jugalah yang menyentuh hati umat. Pertumbuhan misi yang tadinya nyaris ditutup pada tahun 1929 karena minimnya baptisan, pelan-pelan berbuah manis melampaui perhitungan manusiawi. “Sesuatu yang tak dimengerti” itu bekerja dalam keheningan, mengubah stasi kecil di Mahakam menjadi empat keuskupan mandiri (Banjarmasin, Samarinda, Palangka Raya, dan Tanjung Selor).

 Menjadi Utusan Harapan di Era Digital

Merayakan 100 Tahun misi MSF di Indonesia (1926-2026) dengan mengangkat tema “Berjalan Bersama Keluarga dan Kaum Muda yang Penuh Harapan”, sesungguhnya adalah menggemakan kembali jeritan kerinduan Madah 6 dan 7 di zaman modern.

Dunia hari ini dipenuhi oleh terlalu banyak “utusan” atau pesan-pesan digital: layar gawai, media sosial, dan kecerdasan buatan (AI) yang terus membanjiri ruang keluarga kita dengan informasi. Namun, sama seperti rintihan jiwa dalam Kidung Rohani, semua “utusan virtual” itu tidak tahu bagaimana menyembuhkan kesepian eksistensial dan keterasingan batin generasi muda kita. Mereka tidak tahu memberikan “apa yang sungguh kita mau”.

Pesan J.B. Berthier yang tertanam dalam kharisma MSF menantang keluarga-keluarga Katolik masa kini untuk menjadi saksi hidup (entregarte ya de vero), bukan sekadar mengirim pesan teks. Keluarga dipanggil menjadi “Nazareth” baru, di mana meja makan kembali menjadi altar domestik, tempat perjumpaan langsung yang penuh kehangatan.

Di saat peradaban modern mungkin hanya bisa “terbata-bata” mengenali Allah di tengah kebisingan sekuler, Gereja (dan MSF secara khusus) dipanggil untuk terus hadir dengan penuh belas kasih.

Dari hulu Mahakam hingga ke paroki-paroki urban, misi sejati adalah merangkul “sesuatu yang tak dapat dijelaskan” itu, yaitu misteri Kasih yang rela menderita dan mati agar dunia memperoleh kehidupan.

Satu abad MSF di Nusantara membuktikan bahwa ketika manusia mau dengan rendah hati “terbata-bata” melayani, Tuhan sendirilah yang akan menyempurnakan bahasanya menjadi mukjizat keselamatan.

Spread the love