Y.B. MANGUNWIJAYA atau Romo Mangun sangat pantas mendapat penghargaan tertinggi, meski beliau sendiri tidak meminta penghargaan itu. Karyanya meliputi pelbagai bidang: seni, sastra, esai, arsitektur, pemikiran kritis bidang filsafat, teologi, politik, karya sosial, pendidikan, dan karya-karya nyata sebagai bentuk-bentuk kepedulian pada bangsa dan negara. Masyarakat sangat mengagumi dan mengapresiasinya. Ini terbukti, sedikitnya, 226 karya tulis berupa artikel di jurnal ilmiah, skripsi, tesis, disertasi, buku, di tingkat nasional maupun internasional menganalisis dan mengapresiasi Romo Mangun dan aneka karyanya.
Bahkan setelah 25 tahun wafat Romo Mangun, masyarakat tetap mengenang, mengingat, dan terdorong untuk melanjutkan karyanya. Satu penghargaan tertinggi, Anugerah Adiluhung, diberikan oleh detikJatengJogja Awards 2025 kepada Romo Mangun. “Penerima penghargaan ini dianggap telah ‘paripurna mendarmabaktikan hidupnya bagi negara,’ dan penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan pengabdian mereka.” Demikianlah, Romo Mangun diakui telah paripurna dalam mendarmabaktikan hidupnya bagi negara. Penghargaan tersebut diserahkan pada tanggal 23 Juli 2025 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang.

Namanya diabadikan sebagai nama Politeknik Katolik Mangunwijaya di Semarang. Pada tanggal 8 September 2025, namanya juga diabadikan untuk nama Jalan Lingkungan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang Semarang. Memang bukan jalan protocol. Tetapi justru itulah ciri khas Romo Mangun. Ia peduli pada masyarakat kecil dan dipinggirkan. Sambutan Walikota Semarang pada saat persemian Jalan Mangunwijaya, “seandainya Mangunwijaya masih hidup, saya percaya beliaulah orang terdepan yang ingin hadir di tempat ini. Karena dalam setiap perjuangannya, beliau selalu memilih berdiri di sisi yang tersisih, di tempat yang dianggap kumuh, namun justru di situlah ia menyalakan harapan.”
Harga: Rp150.000
Tebal: 192 hlm
Ukuran: 175 x 250mm
Kertas isi: Berwarna HVS 80 grm
Kertas Cover: Ivory 260 grm, doft
ISBN:
