Oleh: Alfred B. Jogo Ena

Waktu melaju bak kereta cepat
dari Bandung ke Jakarta
sekencang angin laut
tak hanya menepi bersama buih
yang menyaring pasir bagi anak-anak pantai

Dua ribu tiga sudah uzur
tersisa dua hari pintu tertutup
sembari siapkan pelataran
syukur atas cinta Ilahi
yang tercurah saban hari

Sekencang Woosh Bandung Jakarta
sepelemparan rahmat tercurah
memberkati diri dan negeri
yang lagi berbenah
mencari pemimpin amanah
bawa bunda pertiwi kemilau
majulah secepat waktu berlalu
selalu!

Puisi “PADA WAKTU YANG BERLARI” di atas merupakan sebuah refleksi kontemplatif yang memotret percepatan zaman melalui metafora teknologi modern dan spiritualitas.

Berikut adalah pemaknaan puisi tersebut ke dalam lima alinea yang ditinjau dari sudut pandang filosofis, psikologis, dan sosiologis:

Eksistensi di Tengah Akselerasi

Secara filosofis, puisi ini menggambarkan konsep Panta Rhei, semuanya mengalir dan tak ada yang tetap, yang kini termanifestasi dalam wujud kereta cepat Whoosh. Penggunaan metafora “kereta cepat” dan “angin laut” menunjukkan bahwa waktu bukan lagi sekadar aliran linier yang tenang, melainkan sebuah daya ledak yang memaksa manusia untuk terus bergerak.

Melalui puisi di atas kita diajak merenungkan bahwa di balik kecepatan yang bersifat profan (duniawi), tetap ada “pintu yang tertutup” dan “pelataran” yang harus disiapkan. Ini adalah pengingat metafisik bahwa secepat apa pun kemajuan teknologi, batas akhir (eskatologi) tetaplah sebuah kepastian yang menuntut kesiapan bila “pintu” waktu benar-benar terkunci.

Resiliensi dan Penjangkaran Diri

Dari sisi psikologis, puisi ini menyentuh aspek manajemen kecemasan menghadapi ketidakpastian masa depan. Kecepatan seringkali menimbulkan time-anxiety atau ketakutan tertinggal oleh zaman. Namun, penyair menawarkan “syukur atas cinta Ilahi” sebagai mekanisme koping atau penjangkaran diri (grounding).

Di tengah deru mesin Whoosh yang melambangkan ambisi dan ketergesaan, eksistensi anak-anak pantai yang bermain dengan buih pasir menjadi simbol sisi psikis manusia yang tetap membutuhkan ketenangan, kemurnian, dan kepasrahan agar kesehatan mental tetap terjaga di tengah tuntutan hidup yang kian memburu.

Modernitas dan Harapan Kolektif

Secara sosiologis, puisi ini menangkap potret Indonesia yang sedang bertransformasi menuju modernitas infrastruktur. Keberadaan Whoosh bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol perubahan struktur sosial menuju masyarakat yang serba cepat dan efisien.

Namun, ada catatan kritis bahwa pembangunan fisik (“negeri yang lagi berbenah”) harus dibarengi dengan pembangunan integritas sosial melalui pencarian “pemimpin amanah”. Ini menunjukkan aspirasi sosiopolitik masyarakat yang merindukan harmoni antara kemajuan materialistik dengan tegaknya nilai-nilai kejujuran dalam kepemimpinan nasional demi kejayaan “Bunda Pertiwi”.

Menatap Transisi Era

Secara aktual, penyebutan “Dua ribu tiga yang sudah uzur” (yang secara kontekstual merujuk pada refleksi akhir tahun atau transisi era) menggambarkan dinamika transisi yang sedang dialami bangsa. Kita berada pada titik di mana memori masa lalu (pasir dan pantai) bertemu dengan ambisi masa depan (kereta cepat).

Puisi ini sangat relevan dalam konteks pasca-pembangunan besar-besaran, di mana masyarakat mulai mempertanyakan: “Setelah kita melaju cepat, ke mana arah tujuan sebenarnya?”

Kesadaran akan waktu yang terbatas mendorong urgensi bagi setiap elemen bangsa untuk tidak sekadar menjadi penumpang dalam gerbong kemajuan, melainkan menjadi subjek yang aktif menentukan arah kemilau negeri.

Kecepatan yang Berintegritas

Sebagai penutup, pemaknaan puisi ini bermuara pada pesan bahwa kemajuan (progress) adalah sebuah keniscayaan yang harus dihadapi dengan keberanian (“majulah secepat waktu berlalu”). Namun, kemajuan tersebut tidak boleh kehilangan jiwanya.

Perpaduan antara teknologi (Whoosh), spiritualitas (rahmat Ilahi), dan moralitas (pemimpin amanah) adalah prasyarat mutlak agar akselerasi waktu tidak menjerumuskan kita pada kehampaan, melainkan membawa kita pada kemilau peradaban.

Kita diminta untuk berlari bersama waktu, namun tetap memiliki pijakan yang kuat pada nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan agar tidak terhempas oleh kecepatan yang kita ciptakan sendiri.



Spread the love