Oleh: Alfred B. Jogo Ena

“Anda hanya bisa percaya pada orang lain, jika Anda percaya pada diri Anda sendiri” (ABJE).

Seorang bayi bisa tertidur lelap di dada ibunya, karena dia percaya (meski dia belum bisa berpikir) bahwa sang ibu sangat menyayangi dan akan menjaganya sepenuh hati.


Seorang anak berani melompat dari kobaran api dari lantai dua hanya karena mendengar suara ayahnya yang begitu meyakinkannya. Meski dia tidak bisa melihat karena tertutup asap, tapi dia percaya bahwa kalau dia melompat, pasti akan ditangkap sang ayah….dan dia pun melompat dalam “kegelapan” asap serta ditangkap sang ayah dengan selamat.


Para penumpang travel atau bis bisa tertidur lelap di dalam bus karena mereka percaya bahwa sang sopir akan membawa mereka sampai tempat tujuan dengan selamat.


Seorang teman yang sedang kesulitan akan datang meminta pertolongan Anda, karena dia percaya bahwa Anda akan menolongnya. Seorang teman saya, seorang pelaut pernah berkisah pada saya bahwa suatu ketika di tahun 1997, kapal barang tempat ia bekerja karam dan tenggelam di perairan dekat Sorong. Mereka ada sembilan orang. Sang kapten memerintahkan agar mereka saling mengikatkan diri, supaya jangan ada yang terpisah karena ombak laut sangat besar. Enam jam mereka masih bisa bertahan bersama-sama, tetapi karena semakin besarnya ombak dan takut ada yang terluka karena benturan – untuk menghindari Hiu yang sangat sensitif terhadap bau darah – mereka mulai saling melepaskan diri dan berjuang untuk ketemu di daratan (± 70-100 km). Dengan peralatan penyelamatan darurat yang seadanya, mereka mulai berenang menuju darat. Akhirnya lima teman terdampar di tanjung, sedangkan 4 orang lainnya (termasuk teman saya tadi) terdampar di teluk. Mereka bisa saling melihat, tetapi untuk yang dari tanjung sangat sulit menuju teluk karena harus melewati pantai berawa dan hutan bakau. Mereka takut jadi santapan buaya. Menurut temanku, mereka sudah selamat dari Hiu, maka mereka tidak mau ambil risiko dengan menjadi santapan buaya. Mereka hanya percaya bahwa Tuhan melalui teman-teman mereka yang di teluk itu, akan mencarikan bantuan bagi mereka. Ternyata benar, tidak sampai dua jam, bala bantuan dari penduduk setempat datang. Mereka lalu diangkut dengan perahu-perahu penolong itu menuju teluk dan bergabung dengan teman-teman yang lain. Para penolong itu (orang-orang pedalaman Papua) adalah orang-orang yang selama ini sering mereka bantu: minyak tanah, solar, gula dan garam. Persahabatan yang darurat itu sudah mereka bangun selama ini. Mereka sudah saling percaya.


Memang….membangun kepercayaan pada orang lain itu sulit, tapi kita tidak akan pernah berhenti untuk mempercayai mereka. Untuk bisa mempercayai orang lain dengan tulus, jujur dan terbuka….belajarlah untuk mulai mempercayai dirimu terlebih dahulu. Semakin engkau percaya pada dirimu, engkau akan semakin percaya pada orang lain, pada sahabatmu. Akhirnya….berkat kepercayaan itulah kita bisa membangun persahabatan dengan semua orang. Suatu persahabatan yang dibangun atas dasar saling percaya akan langgeng. Dan kelanggengan persahabatan itu menyiratkan pesan bahwa sahabat sejati ibarat belahan jiwa kita. Jadi,….belajarlah untuk selalu percaya diri dan mempercayai orang lain…(abje)

Spread the love