Secangkir Kopi Pahit, PJJ Hemat BBM, dan Akrobat Kurir Makan Bergizi: Sebuah Komedi Kebijakan

Mari kita mulai pagi ini dengan duduk di beranda, menyeduh secangkir kopi hitam pekat tanpa gula. Sebagaimana filosofi kopi Nusantara racikan ala kadarnya oleh saya, kopi yang pahit ini tidak diciptakan untuk meninabobokan, melainkan untuk membangunkan jiwa dan memaksa mata kita terbuka lebar melihat realitas tanpa ilusi. Dan realitas kebijakan kita saat ini, sejujurnya, sangat butuh kafein tingkat tinggi agar kita bisa mencernanya tanpa harus tertawa ngakak berguling-guling.

Mari kita bedah sebuah ironi kebijakan yang sedang hangat diperbincangkan. Di satu sisi, pemerintah berwacana menerapkan kembali Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sekolah daring mulai April 2026. Tujuannya sangat mulia: efisiensi energi nasional dan menghemat konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) di tengah krisis global. Logikanya sederhana, jika guru dan jutaan siswa belajar dari rumah, mobilitas berkurang, dan BBM pun hemat. Masuk akal? Sangat!

Namun, tunggu dulu. Di sisi lain, kita punya mega-proyek Badan Gizi Nasional (BGN) berupa Makan Bergizi Gratis (MBG) yang anggarannya dipastikan tetap kebal pemotongan, yakni Rp335 triliun. Pertanyaan kritis nan menggelitik pun muncul: Jika siswa belajar di rumah demi menghemat BBM, lalu bagaimana nasib jatah makan siang mereka?

Realitas di lapangan rupanya sudah memberikan semacam spoiler komedi. Tengok saja kejadian di SMAN 62 Jakarta saat mereka harus PJJ mendadak. Alih-alih duduk manis di rumah, para siswa dan orang tua justru tetap diminta datang ke sekolah membawa wadah (ompreng) sendiri untuk mengambil jatah MBG yang terlanjur dimasak.

Coba sesap lagi kopi Anda, lalu pikirkan ini: Siswa dilarang ke sekolah untuk belajar demi menghemat BBM, tapi mereka tetap harus menyalakan motor dan pergi ke sekolah demi mengambil nasi, ayam, tahu, dan pisang? Bukankah ini sama saja bohong? Niat hati ingin irit bensin, eh malah jadi boros bensin demi mengambil snack dan makan siang. Ini ibarat diet ketat tidak makan nasi, tapi ngemilnya martabak manis!

Lalu, muncul wacana opsi lain yang tak kalah membagongkan. Badan Gizi Nasional (BGN) kabarnya menyiapkan beberapa skema saat siswa tidak belajar di kelas, salah satunya adalah memberikan paket makanan yang dirapel, atau skema-skema di mana distribusi tetap berjalan. Nah, pertanyaannya, apakah tim BGN harus beralih profesi menjadi kurir ojek online (ojol) dadakan yang berkeliling dari pintu ke pintu ke rumah jutaan siswa demi mengantar MBG?

Jika skema door-to-door ini yang dipakai, mari kita hitung-hitungan BBM lagi. Alih-alih siswa yang menghabiskan bensin untuk ke sekolah, kini armada BGN-lah yang harus membakar ribuan liter BBM setiap harinya untuk blusukan masuk gang sempit membagikan kotak makan.

Niatnya memangkas subsidi BBM biar tepat sasaran, yang terjadi malah subsidi silang BBM dari tangki motor siswa pindah ke tangki mobil boks pengantar makanan BGN. Sungguh sebuah plot twist efisiensi energi yang sangat mind-blowing!

Ini adalah contoh sempurna dari apa yang dikritik Alfred Benediktus sebagai kebijakan yang paradoksal dan tumpang tindih. Sesuatu yang awalnya menjanjikan “aroma kopi yang wangi”, jika dieksekusi tanpa koordinasi yang matang, pada akhirnya hanya akan meninggalkan “ampas” kebingungan di gelas yang kosong.

***

Kebijakan menghemat BBM dengan merumahkan siswa adalah ide yang bagus, sama bagusnya dengan niat memberikan gizi gratis untuk anak bangsa. Namun, jika kedua kebijakan ini disatukan tanpa skema logistik yang masuk akal, kita hanya sedang memindahkan kemacetan dan polusi dari jam berangkat sekolah ke jam antrean pembagian catering.

Mungkin para pembuat kebijakan perlu duduk sebentar di beranda, menyeduh kopi Robusta Lampung yang greget atau kopi Flores Bajawa yang tajam, agar terbangun etos makaryo yang jernih. Jangan sampai program bernilai ratusan triliun ini berubah menjadi serial sitkom komedi: “Demi Hemat Bensin Sebotol, Rela Habis Bensin Sedrigen Buat Ngantar Telur Rebus.”

Spread the love